Entah kenapa kalo ngeliat
wanita hamil kesan nya sexy banget. Dari dulu suka aja gitu ngeliat wanita
hamil, sexynya lebih keluar bingit. Di kampus lumayan banyak temen yang udah
nikah, hamil masih kuliah dan bisa ikut uts uas. Salut banget sama wonder woman
kayak begitu. Bayangin dong tugas bertumpuk tumpuk, lagi hamil, hamil kan gak
boleh banyak pikiran dan gak boleh kelelahan. Ada juga yang baru ngelahirin
beberapa harinya langsung bisa ikut ujian. Salut brooo. Ada juga yang hamil
anak kedua masih sibuk ngurus anak pertamanya yang masih kecil tapi dia bisa
kuliah dengan lancer dan nilainya memuaskan semua, apa lagi dia harus melayani
suaminya. Wanita wanita perkasa. Tapi ada juga sih yang hamil dia ambil cuti
mungkin dia mau fokus dengan kehamilannya. Intinya ngeliat wanita yang lagi
hamil kesannya sexy banget apalagi hamilnya udah tua. Bulet bulet gimana gitu
perutnya. Sexy bet.
Selasa, 19 Mei 2015
stretch mark, tak bisa dihilangkan 100%
hay kali ini gue mau ngebahas tentang stretch mark yap, udah pada tau
kan? Dibahasa indonesiakan adalah guratan peregangan. Bagi yang belum tahu kita
bahas dulu yuk stretch mark itu apa. Di artikel yang gue baca (Wikipedia Indonesia)
stretch mark adalah munculnya gurat-gurat putih pada permukaan kulit.
Gurat peregangan sangat sering terjadi, terutama pada perempuan yang
sedang hamil.
Sehingga, gurat peregangan kemudian sering dianggap sebagai gurat kehamilan.
Padahal, sebenarnya gurat peregangan ini adalah masalah semua perempuan. Baik
yang sedang hamil, maupun yang belum pernah hamil.
Munculnya
gurat peregangan ditengarai dipicu oleh terjadinya peregangan permukaan kulit
akibat bertambahnya berat badan yang radikal dalam waktu singkat.
Oleh
karena itu, area-area seperti betis, perut, paha, bokong,
dan lengan atas,
yang biasa terjadi pemekaran ketika terjadi kenaikan berat badan, menjadi
sangat akrab dihinggapi gurat peregangan.
Proses
terbentuknya gurat putih ini sebetulnya diawali dengan adanya timbunan lemak di
bawah kulit. Seperti diketahui, sebagian besar tubuh perempuan dibentuk oleh
lemak yang terkonsentrasi pada bagian-bagian tertentu. Ketika berat badan
bertambah drastis, lapisan dermis yang berada di atas lapisan lemak jadi
teregang secara radikal.
Akibat
terlalu dipaksakan melar, lapisan kulit yang mengandung banyak pembuluh darah
dan sel kulit muda ini lalu menjadi pecah. Sehingga, akan memunculkan
gurat-gurat berwarna keunguan yang diiringi rasa gatal. Warna ungu ini muncul
sebagai akibat dari adanya aktivitas pigmen kulit melalui melanosit yang disebabkan
robekan pada bagian dermis kulit.
Lama
kelamaan ia akan berubah warna menjadi putih, sebagai pertanda telah
terbentuknya jaringan baru, yang memiliki warna berbeda dengan warna kulit
aslinya. Selain masalah pertambahan berat badan, kurangnya elastisitas kulit
juga memengaruhi kemungkinan terjadinya gurat peregangan. Sehingga, pada
kondisi perempuan yang kurang asupan penunjang kolagen kulit dan dehidrasi,
bisa semakin memperbesar kemungkinan dirinya mengalami gurat peregangan.
Nah, udah tau kan stretch mark itu apa. Kenapa gue ngebahas masalah ini. Karena gue
sendiri mengalaminya. stretch mark ini gue ketahui sejak 1tahun kurang yang
lalu. Kata mama stretch mark yang gue punya deket bokong ini dikarenakan bertambahnya
volume bokong gue alias berat badan gue bertambah. Di Indonesia ngebahas berat
badan mungkin masih hal yang wajar, apa lagi dikalangan para wanita-wanita. Dulu
berat badan gue 45kg bahkan kurang dari itu dan terakhir gue timbang 50kg pas. Mungkin
gara-gara kurang olahraga dan always makan gak teratur karena jadwal kuliah
malam terus dari semester 3. stretch mark yang gue punya berwarna putih, memang
gak terlalu berbahaya tetapi tampilannya yang kurang enak dilihat. Kalau
gue lagi ngaca, seperti ada nilai minus di badan gue gak pede gitu jadinya. Setau
gue stretch mark ada 2 macam,
warna putih dan warna merah. Yang warna putih gak terlalu berbahaya selagi
tidak terasa gatal, dan kalau yang sudah berwarna merah dan gatel itu sudah
lumayan parah. stretch mark gak bisa dihilangin 100 %, Cuma bisa
mengurangi jumlahnya dan membuatnya lebih tidak mencolok itupun harus rutin
merawatnya. Menurut servey yang gue buat ceileh, gue melakukan wawancara
singkat dengan sedikit pertanyaan diantara banyaknya teman wanita gue. Gue ambil
10 sampel dan gue wawancara atu atu noh. 6 dari 10 temen gue ternyata punya stretch mark juga. Hahaha gue lega,
ternyata bukan cuma gue doang yang punya, soalnya setau gue ibu-ibu hamil aja
yang rata-rata memiliki stretch mark. Ada yang diberbagai tempat dan beberapa temen
gue juga kasi gue liat dibagian mana aja. Ini fix gara-gara jarang olahraga
guenya dan gak menjaga berat badan agar gak terlalu drastis naik dan drastis turun.
Dulu itu gue pengen nambah berat badan karena gue dibilang terlalu kurus,
mungkin gara gara terlalu drastis seketika kali ya naiknya sampe tumbuh yang
begituan. Salah satu temen gue sempet coba pake crem yang di iklan iklan itu,
gak ngefek juga sih katanya. Gak ada perubahan tetep gitu-gitua ajeee. Dulu waktu
gue sma, temen gue yang jenis kelamin pria ada juga yang punya stretch mark di
dada. Ternyata eh ternyata dia dulu gendut dan akhirnya kurus karena sering
ikut silat dan selalu menang perlombaan hingga tingkat nasional. stretch mark
bisa juga karena penurunan berat badan secara drastis. stretch mark bisa juga
hinggap di para pria ternyata. Nah gue belum dapet cara ampuh yang alami buat
memudarkan stretch mark ini. Tapi banyak yang nyaranin rutin di scrub pake ampas
kopi tubruk. Kalo pake teknologi bisa dilaser sih. Jaga pola makan dan rajin
ber olahraga. Cara lain yang ampuh apa dong? Ada saran gak? Kalo ada saran bisa
comment ya. memang sih banyak artikel yang membahas cara menghilangkan stretch
mark tapi masih ragu, kayaknya gak efektif. Ok kapan kapan gue bakal cari tau
cara yang efektif yaitu ……. Datang ke dokter kulit :D
Senin, 18 Mei 2015
promosi
cek IG kita yuk kaka, ada gelang yang terbuat dari gemstone hihihi. lucu lucu, unik unik. bohe dan bohemian banget. cocok buat yoga. manfaatnya juga ada. IG: @olivebracelet_
Bisa req warna tali yang kaka inginin. design yang unik bisa langsung consultasi sama adminnya :D
ditunggu ya :D
Bisa req warna tali yang kaka inginin. design yang unik bisa langsung consultasi sama adminnya :D
ditunggu ya :D
Jumat, 15 Mei 2015
Aspek Keperilakuan pada Pengambilan Keputusan dan Para Pengambil Keputusan
AKUNTANSI
KEPERILAKUAN
“Aspek Keperilakuan pada Pengambilan
Keputusan dan Para Pengambil Keputusan”
Kelompok : 6
Made Puspita Christanti (1215351152)
Vazria Ulfa Liandini (1215351191)
Yoana Dharmawan (1215351196)
Luh Ariska Putri (1215351202)
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana
2015
7.1 PROSES
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Ø Definisi
Dalam organisasi,
pengambilan keputusan biasanya didefinisikan sebagai proses memilih di antara
berbagai alternatif tindakan yang berdampak pada masa depan. Proses pengambilan
keputusan dapat dijabarkan dalam langkah-langkah yang berurutan, yaitu:
1.
Pengenalan
dan pendefinisian atas suatu masalah atau suatu peluang. Untuk mengenali dan mendefi-nisikan
masalah atau peluang, para pengambil keputusan memerlukan informasi lingkungan,
keua-ngan, dan operasi.
2.
Pencarian
atas tindakan alternatif dan kuantifikasi atas konsekuensinya. Dalam tahap ini,
sebanyak mungkin alternatif yang praktis diidentifikasikan dan dievaluasi. Fitur-fitur yang dapat dikuantifika-sikan
akan berupa estimasi keuangan atas biaya dan manfaat yang berkaitan dengan
setiap alternatif.
3.
Pemilihan
alternatif yang optimal atau memuaskan. Walaupun tahap ini tampaknya rasional, tetapi keputusan akhir
sering kali didasarkan pada pertimbangan politik dan psikologis daripada fakta-fakta
ekonomi.
4.
Penerapan
dan tindak lanjut.
Kesuksesan atau kegagalan dari keputusan akhir bergantung pada efisi-ensi dari
penerapannya. Untuk menjamin efisiensi penerapannya, umpan balik secara
periodik dan koreksi segera atas segala kesalahan yang terjadi mutlak
diperlukan.
Ø Motif
Kesadaran
Motif kesadaran sangat
penting dalam proses pengambilan keputusan karena merupakan sumber dari proses
berfikir. Dua faktor penting dari motif kesadaran dalam konteks pengambilan
keputusan, yaitu :
1.
Keinginan
akan kestabilan atau kepastian. Keinginan akan kestabilan menegaskan adanya kemam-puan
untuk memprediksikan.
2.
Keinginan
akan kompleksitas dan keragaman. Motif kompleksitas menimbulkan keinginan akan suatu
stimulus dan eksplorasi serta mengaktifkan pikiran sadar dan bawah sadar untuk
mencari data baru dari ingatan atau lingkungan, kemudian menyeimbangkannya dan
mengaturnya dengan motif. Dua faktor penting dari proses pengambilan keputusan
adalah kompleksitas dan prediksinya (pasti atau tidak pasti).
Dengan menggunakan dimensi-dimensi
kompleksitas dan kemampuan untuk membuat prediksi, para ahli psikologi telah
mengembangkan empat jenis model keputusan:
1.
Model
keputusan yang diprogram secara sederhana.
2.
Model
keputusan yang tidak diprogram secara sederhana.
3.
Model
keputusan yang diprogram secara kompleks.
4.
Model
keputusan yang tidak diprogram diprogram secara kompleks.
Ø Jenis-Jenis
dari Model Proses
1.
Model
Ekonomi. Model
tradisional mengasumsikan bahwa seluruh kegiatan dan keputusan manusia
adalah rasional sempurna dan bahwa dalam suatu organisasi, terdapat
konsistensi antara beragam motif dan tujuan.
2.
Model
Sosial. Model ini
mengasumsikan bahwa manusia pada dasarnya adalah irasional dan keputu-san yang
dihasilkan terutama didasarkan pada interaksi sosial.
3.
Model
Kepuasan Simon.
Model ini didasarkan pada konsep Simon tentang manusia administrasi, di mana
manusia dipandang sebagai rasional karena mereka mempunyai kemampuan untuk
berpikir, mengolah informasi, membuat pilihan, dan belajar.
7.2 PENGAMBIL
KEPUTUSAN ORGANISASI
Ø Perusahaan
sebagai Unit Pengambilan Keputusan
Suatu perusahaan dapat dianggap sebagai unit pengambilan
keputusan yang serupa dalam banyak hal dengan seorang individu. Untuk mengatasi
kelebihan beban dalam pengambilan keputusan, organisasi mengembangkan “prosedur
operasi standar” yang formal atau tidak formal untuk masalah-masalah yang
berulang. Cyber dan March menggambarkan empat konsep dasar
relasional sebagai inti dari pengambilan keputusan bisnis:
1. Resolusi
Semu dari Konflik. Teori keputusan klasik mengasumsikan
bahwa konflik dapat diselesai-kan dengan menggunakan rasionalitas lokal.
2. Penghindaran
Ketidakpastian. Cyber dan March (1963) menemukan bahwa
para pengambil keputu-san dalam organisasi sering kali menggunakan strategi
yang kurang rumit ketika berhadapan dengan risiko dan ketidakpastian. Schiff
dan Lewin (1974) menambahkan slack
organisasi ke alat-alat yang digunakan untuk menghindari ketidakpastian.
3. Pencarian
Masalah. Menurut Cybert dan March pencarian masalah
didefinisikan sebagai proses menemukan suatu solusi atas suatu masalah tertentu
atau sebagai suatu cara untuk bereaksi terhadap suatu peluang.
4. Pembelajaran
organisasional. Walaupun organisasi tidak mengalami
proses pembelajaran seperti yang dialami oleh individu, organisasi
memperlihatkan perilaku adaptif dari karyawannya.
Ø Manusia
- Para Pengambil Keputusan Organisasional
Penting untuk diingat bahwa manusia,
dan bukannya organisasi, yang mengenali dan mendefinisikan masalah atau peluang
dan yang mencari tindakan alternatif. Manusialah yang memilih kriteria pengam-bilan keputusan, memilih
alternatif yang optimal, dan menerapkanya.
Ø Kekuatan
dan Kelemahan Individu sebagai Pengambil Keputusan
Manusia merupakan makhluk yang
rasional karena mereka memiliki kapasitas untuk berpikir, memilih, dan belajar.
Tetapi rasionalitas manusia adalah sangat terbatas karena mereka hampir tidak
pernah memperoleh informasi yang penuh dan hanya mampu memproses informasi yang
tersedia secara berurutan.
Ø Peran
Kelompok sebagai Pembuat Keputusan dan Pemecah Masalah
Kelompok
dianggap sebagai faktor yang menyebabkan ide-ide diinvestigasi dengan lebih
teliti dan meningkatnya kemungkinan bahwa keputusan tersebut akan dapat
diterapkan dengan efektif. Kemam-puan kelompok untuk menganalisis masalah,
mendefinisikan, dan menilai alternatif secara kritis, serta untuk mencapai
keputusan yang valid bisa diperlemah oleh dua fenomena perilaku, yaitu: fenomena
pemikiran kelompok, dan fenomena pergeseran yang berisiko (dampak diskusi
kelompok).
Ø Kesatuan
Kelompok
Kesatuan kelompok didefinisikan
sebagai tingkat dimana anggota-anggota kelompok tertarik satu sama lain dan
memiliki tujuan kelompok yang sama. Tingkat kesatuan kelompok dipengaruhi oleh
jumlah waktu yang dihabiskan bersama oleh para anggota kelompok, tingkat
kesulitan dari penerimaan anggota baru ke dalam kelompok, ukuran kelompok, ancaman
eksternal yang mungkin, dan sejarah keberhasilan dan kegagalan di masa lalu.
Faktor lainnya yang juga mempengaruhi kesatuan kelompok secara mengun-tungkan
adalah riwayat dari kelompok itu.
Ø Pengambilan
Keputusan dengan Konsensus vs Aturan Mayoritas
Konsensus dalam konteks
pengambilan keputusan didefinisikan oleh Holder (1972) sebagai “kesepakatan
semua anggota kelompok dalam pilihan keputusan.” Dalam kebanyakan situasi,
konsensus hanya bisa dicapai setelah pertimbangan yang matang serta evaluasi
yang kritis atas lebih atau kurangnya. Pengambilan keputusan dengan konsensus
membutuhkan lebih banyak waktu dibandingkan dengan penambilan keputusan dengan
pengaturan mayoritas.
Ø Kontroversi
yang Disebabkan oleh Hubungan Atasan - Bawahan
Ketika kelompok
pengambilan keputusan terdiri atas atasan dan bawahan, kontroversi tidak bisa
di-hindarkan. Atasan mempunyai akses terhadap informasi yang berbeda, sehingga
memiliki pendapat yang berbeda pula dibandingkan dengan bawahannya. Kualitas
dari pilihan keputusan akan sangat bergantung bagaimana atasan menangani
kontroversi tersebut.
Ø Pengaruh
Dasar Kekuasaan
Dalam situasi pengambilan keputusan,
seseorang mampu memengaruhi hasil keputusan karena we-wenang atau kekuasaan
yang diberikan oleh organisasi. Elemen kekuasaan yang paling sering disebutkan
adalah kekuasaan posisi, kekuasaan keahlian, kekuasaan sumber daya, atau
kekuasaan politik.
Ø Dampak
dari Tekanan Waktu
Tekanan waktu menyebabkan para
anggota kelompok menjadi lebih sering setuju guna mencapai konsensus kelompok;
lebih kurang menuntut dan lebih bersifat mendamaikan dalam situasi
tawar-menawar; lebih membatasi partisipasi dalam proses pengambilan keputusan
hanya pada relatif sedikit anggota; dan lebih menyukai aturan mayoritas.
7.3
PENGAMBILAN
KEPUTUSAN OLEH PENDATANG BARU VS OLEH PAKAR
Studi atas sikap pengambilan keputusan secara
keseluruhan menunjukkan bahwa pendatang baru mengumpulkan data tanpa melakukan
diskriminasi dan menunggu untuk melihat apa yang akan terjadi. Sebaliknya, para
pakar mengumpulkan data secara diskriminatif guna menindaklanjuti
observasi tertentu; mereka secara teratur meringkas data tersebut dan
memformulasikan hipotesis. Untuk menggambarkan perbedaan dalam penggunaan data;
peneliti membagi tugas analisis keuangan tersebut ke dalam tiga komponen, yaitu:
1. Pengujian
Informasi. Pengujian didefinisikan sebagai
kegiatan menganalisis informasi yang disajikan dan menyeleksi untuk
dipertimbangkan lebih lanjut, hanya informasi yang terlihat sangat relevan
dengan tugas keputusan itu yang harus dilaksanakan. Para pakar lebih banyak
mengandalkan aturan-aturan yang diperoleh berdasarkan pengalaman dibandingkan
dengan para pendatang baru dan mereka juga menguji data dari lebih banyak tahun.
2. Integrasi Pengamatan
dan Temuan. Integrasi melibatkan pengelompokan
atas pengamatan, baik berdasarkan hubungan sebab akibat atau berdasarkan
komponen fungsional dari perusahaan. Ketika mengintegrasikan pengamatan dan
temuan, para pendatang baru menghubungkan pengamatan dan temuan yang
menjelaskan satu sama lain dan mengabaikan yang tidak. Sebaliknya, para pakar
menempatkan penekanan khusus pada kontradiksi yang potensial dalam
pengamatan dan temuan sebagai alat untuk mendeteksi masalah yang mendasari.
3. Pertimbangan. Pertimbangan yang digunakan di
sepanjang proses pengambilan keputusan tampak lebih jelas dalam formulasi
hipotesis, pengembangan petunjuk dalam formulasi keputusan akhir, dan dalam
penyusunan ringkasan temuan.
7.4
PERAN
KEPRIBADIAN DAN GAYA KOGNITIF DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Perbedaan psikologis individu dapat dibagi menjadi dua
kategori: kepribadian dan gaya kognitif. Kepribadian mengacu pada sikap atau
keyakinan individu, sementara gaya kognitif mengacu pada cara atau metode dengan
mana seseorang menerima, menyimpan, memproses, serta meneruskan
informasi. Dalam suatu situasi pengambilan keputusan, kepribadian dan
gaya kognitif saling berinteraksi dan memengaruhi (menambah atau
mengurangi) dampak dari informasi akuntansi.
7.5
PERAN INFORMASI AKUNTANSI DALAM
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Secara definisi, keputusan manajemen memengaruhi kejadian
atau tindakan masa depan, sedangkan informasi akuntansi memfokuskan pada
peristiwa-peristiwa di masa lalu tidak dengan sendirinya dapat mengubah
kejadian atau dampaknya kecuali jika hal itu dilakukan melalui proses
pengambilan keputusan dengan mana kejadian masa depan beserta konsekuensinya
ditentukan. Karena pengambilan keputusan dan informasi mengenai hasil kinerja
akuntansi fokus pada periode waktu yang berbeda, maka keduanya hanya
dihubungkan oleh fakta bahwa proses pengambilan keputusan menggunakan data
akuntansi tertentu yang dimodifikasi selain informasi nonkeuangan.
Ø Data
Akuntansi sebagai Stimuli dalam Pengenalan Masalah
Akuntansi dapat berfungsi sebagai stimuli dalam pengenalan
masalah melalui pelaporan deviasi kinerja aktual dari sasaran standar atau
anggaran atau melalui pemberian informasi kepada manajer bahwa mereka
gagal untuk mencapai target output atau laba yang ditentukan sebelumnya.
Ø Dampak
Data Akuntansi dalam Pilihan Keputusan
Informasi akuntansi memainkan
peran yang lebih penting dalam keputusan jangka pendek di-bandingkan dalam
keputusan yang melibatkan konsekuensi jangka panjang, karena informasi
akuntansi hanya mencerminkan biaya dan pendapatan yang berkaitan dengan operasi
sekarang. Dan kelihatannya para pengambil keputusan lebih memilih informasi
eksternal jika informasi tersebut langsung tersedia dan tidak begitu mahal
dibandingkan dengan data akuntansi yang dikembangkan secara internal.
Ø Hipotesis
Keperilakuan dari Dampak Data Akuntansi
Informasi akuntansi adalah salah satu input dalam model
pengambilan keputusan. Input tersebut dapat bersifat keuangan, nonkeuangan,
atau bahkan tidak dapat dikuantifikasi.
Bruns (1981) mengelompokkan pengambil keputusan ke dalam
tiga kelompok:
1. Para pembuat keputusan dalam
perusahaan yang mengambil keputusan mengenai operasi dan sistem akuntansi
digunakan untuk menyusun laporan (manajemen puncak).
2. Para pengambil keputusan dalam
perusahaan yang hanya dapat membuat keputusan mengenai operasi saja (manajer
operasi).
3. Mereka yang berada di luar
perusahaan yang membuat keputusan mengenai perusahaan tersebut yang dapat memengaruhi
lingkungan dan operasinya, tetapi yang tidak memiliki kendali langsung atas
operasi perusahaan atau aktivitas apapun yang dilakukannya.
Para peneliti lain mempelajari pertanyaan-pertanyaan
mengenai bagaimana para pengambil keputu-san menyesuaikan terhadap perubahan
dalam metode dan terminologi akuntansi. Mereka menemukan bahwa ada dua faktor
yang menentukan tingkat penyesuaian, yaitu: umpan balik dan fiksasi fungsional.
Ø Umpan
Balik
Untuk memahami perubahan dalam metode atau istilah akuntansi
dan untuk menyesuaikan aturan pengambilan keputusan sesuai dengan itu, maka
pengambil keputusan harus menerima informasi me-ngenai perubahan tersebut atau
memiliki umpan balik tidak langsung mengenai perubahan tersebut. Jika seseorang
mengabaikan dampak jangka pendek yang mungkin akibat selang waktu antara
perubahan dan indikasinya, maka kecil kemungkinannya bahwa tidak terdapat umpan
balik sama sekali.
Ø Fiksasi
Fungsional
Sebagai suatu atribut dari pengambilan keputusan, fiksasi
fungsional bervariasi tingkatnya dari situasi yang satu ke situasi yang lain
namun tidak pernah tidak ada sama sekali.
DAFTAR
PUSTAKA
Lubis, Arfan Ikhsan. 2010. Akuntansi Keperilakuan, Edisi 2. Jakarta: Salemba Empat.
Aspek Keperilakuan pada Pengakumulasian dan Pengendalian Biaya
AKUNTANSI
KEPERILAKUAN
“Aspek Keperilakuan pada Pengakumulasian
dan Pengendalian Biaya”
Kelompok : 6
Made Puspita Christanti (1215351152)
Vazria Ulfa Liandini (1215351191)
Yoana Dharmawan (1215351196)
Luh Ariska Putri (1215351202)
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana
2015
5.1 SISTEM
BIAYA TRADISIONAL VS BIAYA STANDAR
Ø Tujuan
dan Penggunaan Sistem Akuntansi Biaya
Akuntansi
biaya mengidentifikasikan, menguantifikasi, mengakumulasikan, dan melaporkan
berbagai elemen biaya yang berkaitan dengan produksi barang atau penyerahan
jasa. Akuntansi biaya memiliki dua tujuan. Melalui akumulasi biaya untuk penilaian
persediaan dan penentuan laba, akuntansi biaya melayani kebutuhan pengguna
eksternal seperti pemegang saham, kantor pemeriksaan pajak, dan kreditor.
Dengan menyediakan manajemen dengan informasi biaya yang tepat waktu dan
relevan, akuntansi biaya membantu dalam perencanaan, pengendalian, dan evaluasi
aktivitas operasional harian dan orang yang bertanggung jawab untuk itu.
Ø Sistem
Biaya Tradisional (Historis)
Istilah
tradisional (historis) mengacu pada sistem biaya yang membatasi input pada
biaya historis dan mengusahakan penyerapan penuh atas biaya tetap dan variabel
oleh unit produk atau jasa. Salah satu kelemahan utama dari sistem biaya
tradisional adalah bahwa persyaratan akuntansi keuangan menuntut agar biaya per
unit produk atau jasa memperhitungkan semua biaya; baik yang dapat ditelusuri
ke suatu produk atau jasa maupun yang terjadi untuk satu periode waktu tertentu
atau untuk lebih dari satu objek biaya. Kelemahan utama lainnya yang berkaitan
dengan pengguna-an sistem biaya tradisional untuk tujuan pengendalian adalah bahwa
satu-satunya dasar untuk pengendalian adalah perbandingan kinerja saat ini
dengan kinerja dari periode sebelumnya. Hal tersebut dapat cukup menyesatkan
karena tidak ada cara untuk mengetahui apakah biaya dari periode sebelumnya
terlalu tinggi, terlalu rendah, atau hampir tepat. Kelemahan terbesar adalah
bahwa sistem tersebut berbahaya karena mendorong respons yang tidak diinginkan
dan destruktif ketika digunakan dalam mengevaluasi kinerja dari individu yang
diberikan tugas untuk melaksana-kan berbagai aktivitas dalam batasan anggaran
tersebut.
Ø Sistem
Biaya Standar
·
Ruang Lingkup
Mengakui
kelemahan dari sistem biaya tradisional, banyak organisasi mengadopsi “sistem
biaya standar”. Sistem biaya standar mencerminkan pencampuran yang potensial
efektif dari akuntansi dengan konsep pengendalian dari teori organisasi modern.
Biaya standar adalah sasaran biaya per unit produk atau jasa yang ditentukan
sebelumnya secara ilmiah, yang dikembangkan melalui studi teknik dan akuntansi.
Aspek pengendalian yang melekat dari perhitungan biaya standar adalah kapabilitasnya
untuk membandingkan, sebagai bagian dari arus data reguler, kinerja aktual
dengan standar yang ditentukan sebelumnya dan untuk menyoroti varians
(menguntungkan atau tidak menguntungkan) antara kedua tingkat biaya tersebut.
·
Kompatibilitas
dengan Konsep Teori Organisasi Modern
Dalam
mengembangkan kerangka kerja untuk sistem biaya standar yang sesuai dengan
konsep teori organisasi modern, langkah-langkah pengendalian berikut ini, sebagaimana
dijelaskan oleh Edwin Caplain, adalah penting :
1.
Penetapan tujuan organisasi.
2.
Penentuan pusat pertanggungjawaban yang
sesuai dan penugasan fungsi kepada masing-masing.
3.
Pengisian staf dari pusat
pertanggungjawaban dengan individu-individu yang memiliki kemampuan, motivasi,
dan pengetahuan yang mencukupi untuk melakukan fungsinya.
4.
Penciptaan jalur komunikasi antara pusat
pertanggungjawaban dan unit organisasi lainnya serta, dimana perlu, lingkungan
eksternal.
5.
Pengembangan prosedur yang memastikan
bahwa informasi yang mencukupi, relevan, dan tepat waktu sepanjang jalur
komunikasi.
6.
Desain dan implementasi mekanisme
pengendalian yang mengukur dan mengevaluasi kinerja dalam hal tujuan organisasi
dan memberikan umpan balik mengenai penyesuaian yang diperlukan dalam tujuan
dan/atau kinerja.
Ø Perhitungan
Biaya Langsung atau Variabel
·
Filosofi yang
Mendasari
Perhitungan
biaya langsung atau biaya variabel membedakan antara biaya produksi dengan biaya
untuk siap menghasilkan. Hanya biaya yang ditimbulkan oleh produksi atau
penyerahan jasa sekarang saja yang diklasifikasikan sebagai biaya per unit
produk atau jasa dan dikapitalisasi sampai barang-barang tersebut terjual atau
jasanya diserahkan.
·
Dorongan
Keperilakuan
Konsep,
prinsip, dan praktik akuntansi memengaruhi pengukuran kinerja manajerial dan,
konsekuensinya, keputusan manajemen. Hal ini tidak selalu mengarah pada hasil
yang diharapkan karena banyak ukuran kinerja memiliki bias yang terkandung di
dalamnya, yang memotivasi manajer untuk memilih alternatif tindakan yang tidak
sesuai dengan kepentingan operasi dan/atau keuangan perusahaan.
·
Pengendalian Biaya
Membagi biaya ke dalam komponen variabel dan tetap
memberikan dasar yang lebih baik untuk pengendalian biaya. Biaya teknik
meliputi biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya
overhead variabel. Biaya tetap yang dikomitmenkan atau biaya kapasitas adalah
seluruh biaya organisasi dan pabrik yang terus terjadi dan yang tidak dapat
dikurangi tanpa merugikan kompetensi organisasi untuk memenuhi tujuan jangka
panjang. Biaya diskresioner ada-lah biaya yang muncul dari keputusan periodik
mengenai jumlah maksimum yang akan dikeluarkan dan yang tidak memiliki hubungan
optimum yang dapat ditunjukkan antara input dan output.
· Pengambilan
Keputusan
Pengetahuan akan biaya diferensial atau biaya variabel serta
margin kontribusi akan meme-ngaruhi perilaku manajer dan mengarahkan mereka
pada pengambilan keputusan yang lebih baik. Beberapa situasi pengambilan
keputusan yang umum adalah sebagai berikut:
- Keputusan
bauran produk.
Ketika dihadapkan dengan keputusan mengenai bauran produk, manajer penjualan
yang mengetahui margin kontribusi dari produk-produknya akan jauh lebih mampu
untuk memutuskan produk mana yang akan didorong dan mana yang harus dikurangi
atau ditolerir hanya karena penjualannya menguntungkan produk lain.
- Penentuan
harga produk baru.
Produk baru pada umumnya diterima di pasar hanya setelah diuji coba secara
ekstensif oleh perusahaan yang memiliki reputasi dalam industri tersebut.
- Penetrasi
pasar. Manajer
dapat menggunakan biaya variabel sebagai dasar untuk penentuan harga ketika
mereka bermaksud untuk memasuki pasar baru dengan produk yang sudah ada atau
ketika mereka terpaksa menghadapi persaingan yang semakin meningkat selama periode
dimana permintaan menurun.
- Penghapusan
produk. Margin
kontribusi akan membantu manajemen dalam menentukan apakah akan menghentikan
suatu produk atau hanya berhenti menjualnya di pasar tertentu.
- Pesanan
khusus. Perusahaan
juga dapat dihadapkan pada dua jenis situasi pesanan khusus. Situasi tersebut
dapat melibatkan akomodasi untuk pelanggan istimewa atau persyaratan khusus
untuk ukuran, metode pengiriman, atau pengepakan.
- Kampanye
iklan dan promosi.
Untuk meningkatkan volume penjualan saat ini, perusahaan dapat meluncurkan
kampaye ikalan dan promosi khusus. Semakin tinggi margin kontribusi dari produk
yang dipromosikan atau diiklankan, maka semakin bersar manfaat bersih
potensialnya, semakin rendah margin kontribusinya, maka semakin banyak tambahan
unit yang harus dijual menutupi tambahan biaya.
- Keputusan
mengurangi biaya.
Pengetahuan ini akan mendorong manajemen untuk sangat waspada terhadap biaya
dan juga memperkenalkan alat dan prosedur untuk menghemat biaya.
5.2 ASPEK
KEPERILAKUAN DARI LANGKAH AKUNTANSI BIAYA YANG DIPILIH
Ø Penetapan Standar
Elemen
yang paling berpengaruh dalam menentukan keberhasilan atau kegagalan sistem
biaya adalah standar yang digunakan sebagai kriteria kinerja. Standar yang
memiliki fungsi ganda, yaitu berfungsi sebagai tujuan untuk memotivasi
pengendalian biaya dan sebagai alat evaluasi kinerja.
Ø Partisipasi dalam Penetapan Standar
Michael
Foran dan Don DeCoster meringkas logika yang mendasari seluruh argumen yang mendukung
partisipasi menjadi “jika seorang pekerja berpartisipasi dalam menetapkan
standar kinerjanya sendiri, maka ia akan membuat komitmen yang tegas terhadap
standar tersebut, dan oleh karena itu, akan bekerja keras untuk mencapainya.”
Ø Standar yang Ketat vs Standar yang
Longgar
Untuk
berfungsi sebagai alat motivasi, standar yang akan digunakan haruslah tidak
terlalu ketat dan tidak terlalu longgar. Standar yang ketat akan lebih sering
tidak tercapai daripada dipenuhi. Sementara itu, standar yang longgar tidak
memberikan manfaat motivasional apapun karena standar tesebut begitu mudah
dicapai, sehingga mandor dan manajer akan mengabaikan standar tersebut karena
dianggap tidak berarti. Tanpa memedulikan tingkat partisipasi atau
keketatannya, setelah standar ditetapkan, maka standar itu harus diperbarui
sehingga dapat mempertahanlan relevansinya.
Ø Penyerapan Overhead
Ketika
dasar yang digunakan untuk penyerapan berbeda dengan yang telah ditentukan
sebelumnya, maka varians yang dibebankan terlalu tinggi atau terlalu rendah
akan terjadi. Ukuran dari varians ini juga dipengaruhi oleh tingkat kapasitas
yang dipilih sebagai penyebut dalam penentuan tarif tersebut.
Ø Alokasi Biaya Tidak Langsung
Dalam
riset yang didukung oleh National Association of Accountants (NAA),
James Fremgen dan Shu S. Liao menemukan bahwa perusahaan responden membedakan
dengan tegas dua jenis biaya tidak langsung, yaitu:
1)
Biaya jasa korporat adalah biaya jasa yang
dilakukan secara sentral untuk manfaat korporat dan berbagai pusat
pertanggungjawaban.
2)
Biaya administratif korporat adalah biaya
yang diperlukan untuk mengoperasikan kantor korporat.
5.3 ANALISIS
VARIANS
Unsur
utama dari pengendalian biaya adalah perbadingan secara periodik antara biaya
aktual dengan sasaran biaya yang telah ditentukan sebelumnya, baik dalam bentuk
anggaran maupun standar.
Ø Keputusan Investigasi Varians
Keputusan
manajemen semata-mata bergantung pada penilaiannya atas signifikansi
diskrepansi yang diamati. Varians ini memiliki signifikansi pengendalian hanya
jika varians tersebut berasal dari penyebab yang dapat ditentukan atau, dengan
kata lain, tidak bersifat acak dan rentan terhadap tindakan perbaikan. Tetapi,
kerumitan permasalahan yang sebenarnya terletak pada fakta bahwa tanpa
investigasi, manajemen tidak memiliki dasar untuk menentukan apakah varians tertentu
ditimbulkan dari penyalahgunaan yang dapat diidentifikasikan dan dikendalikan,
atau apakah varians tersebut bersifat acak atau tidak dapat dikendalikan.
Ø Aspek Keperilakuan
Komponen
khusus dari kebijakan pengendalian yang dapat memengaruhi respon manusia adalah
faktor-faktor berikut:
1.
Batas
pengendalian. Kisaran hasil kinerja yang dianggap
dapat diterima oleh manajer adalah batasan pengendalian. Batasan ini menentukan
seberapa mudah atau sulit bagi seseorang yang dikendalikan untuk berkinerja
dalam kisaran yang dapat diterima dan berapa banyak ruang yang mereka miliki
untuk gagal sekali waktu.
2.
Hasil
umpan balik. Umpan balik yang positif akan
memberitahu mereka bahwa mereka ada pada jalur yang tepat dan akan memotivasi
mereka untuk mengulangi usaha yang sama.
3.
Keketatan
pemaksaan. Pemaksaan yang ketat atas kebijakan pengendalian
akan menimbulkan tekanan dalam diri individu yang dikendalikan. Sementara
tekanan dapat menyegarkan individu -individu tertentu, tekanan tersebut dapat
mengintimidasi yang lain menurunkan kinerja mereka yang sudah buruk lebih jauh
lagi.
4.
Struktur
penghargaan. Orang atau kelompok akan memodifikasi
perilaku mereka yang tidak diinginkan dan mengulangi perilaku yang diinginkan
ketika mereka memandang bahwa perubahan atau pengulangan perilaku tersebut disertai
dengan penghargaan intrinsik maupun ekstrinsik.
DAFTAR
PUSTAKA
Lubis, Arfan Ikhsan. 2010. Akuntansi Keperilakuan, Edisi 2. Jakarta: Salemba Empat.
Langganan:
Postingan (Atom)