Selasa, 25 November 2014

STANDAR LAPORAN

LAPRAN AUDITOR ATAS LAPORAN KEUANGAN  AUDITAN
STANDAR LAPORAN
Menyatakan bahwa :
Laporan audit harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
SA 411.04, (PSAK No. 08 ), menyatakan bahwa pendapat auditor tentang kesuaian dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum harus didasarkan atas pertimbangannya apakah:
·         Prinsip akuntansi yang dipilih dan dilaksanakan telah berlaku umum.
·         Prinsip akuntansi yang dipilih tepat untuk keadaan yang bersangkutan.
·         Laporan keuangan beserta catatannya memberikan informasi cukup yang dapat mempengaruhi penggunaannya, pemahamannya, dan penafsiran
·         Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan diklasifikasikan dan diikhtisarkan dengan semestinya, yang tidak terlalu rinci ataupun tidak terlalu ringkas
·         Laporan keuangan mencerminkan peristiwa dan transaksi yang mendasarinya dalam suatu cara yang menyajikan posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas dalam batas batas yang tepat diterima, yaitu batas-batas yang rasional dan praktis untuk dicapai dalam laporan keuangan.
Yang menjadi sumber acuan prinsip akuntansi yang berlaku umum adalah:
        i.            Prinsip akuntansi yang ditetapkan dan/atau dinyatakan berlaku oleh ikatan akuntan Indonesia
      ii.            Literature akuntansi lainnya, termasuk didalamnya International Accounting Standar Committee Statements; pernyataan yang dibuat oleh asosiasi professional lain atau badan pengatur; buku teks, handbooks, dan artikel akuntansi
Prinsip Akuntansi Berlaku Umum yang ditetapkan IAI
IAI menetapkan sejumlah prinsip akuntansi yang diumumkan sebagai standar akuntansi keuangan (SAK). Prinsip-prinsip ini dalam aturan etika-kompertemen akuntan public IAI, aturan etike 203 disebut sebagai prinsip akuntansi yang diterapkan IAI. Oleh karena itu,IAI menegaskan apabila prinsip akuntansi yang diterapkan IAI cocok untuk diterapkan pada laporan keuangan perusahaan, maka prinsip-prinsip tersebut harus diikuti dalam memenuhi standar pelaporan yang pertama.
STANDAR PELAPORAN KEDUA
Berbunyi sebagai berikut:
Laporan audit harus menunjukkan keadaan yang didalamnya prinsip akuntansi tidak secara konsisten diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan dalam hubungannya dengan prinsip akuntansi yang diterapkan dalam periode sebelumnya.
Perubahan Akuntansi yang Mempengaruhi Konsistensi
Meliputi:
§  Perubahan dalam prinsip akuntansi itu sendiri
§  Perubahan dalam metoda penerapan satuan prinsip
§  Perubahan dalam satuan usaha yang membuat laporan
Perubahan-perubahan yang Tidak Mempengaruhi Konsistensi
Standar kosistensi tidak mencakup perubahan atas komparabilitas yang diakibatkan oleh hal-hal berikut:
§  Perubahan dalam estimasi
§  Koreksi kesalahan yang tidak melibatkan prinsip akuntansi
§  Perubahan dalam klasifikasi dan klasifikasi kembali
§  Transaksi atau kejadian yang sangat berbeda
§  Perubahan atas kondisi perusahaan, seperti adanya akuisisi sebuah anak perusahaan
§  Perubahan berupa adanya produk baru
§  Bencana alam
STANDAR PELAPORAN KETIGA
Menyatakan:
Pengungkapan Informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan audit
Jika audit tidak secara eksplisit menyebutkan hal-hal bertentangan dengan standar ini, maka pembaca laporan audit dapat berkesimpulan bahwa standar pelaporan pengungkapan telah terpenuhi.
Dalam SA 411.04 arti istilah “disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum” mencakup pula kecukupan pengungkapan.
STANDAR PELAPORAN KEEMPAT
Berbunyi:
Laporan audit harus memuat suatu pertanyaan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasannya harus dinyatakan. Dalam semua hal yang nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, laporan audit harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan auditor, jika ada dan tingkat tanggungjawab yang dipikulnya.
Pernyataan suatu Pendapat
Standar ini mengharuskan auditor untuk menentukan suatu pendapat atau pernyataan bahwa suatu pendapat tidak dapat diberikan. Apabila pernyataan pendapat tidak dapat diberikan, alasannya harus dinyatakan dalam laporan auditor.
Laporan Keuangan
Berupa sebuah laporan, seperti misalnya neraca, atau seperangkat laporan utama yang lengkap. Kadang-kadang laporan utama disertai juga dengan sebuah laporan perubahan modal pemegang saham.
Karakter suatu Audit
Suatu audit meliputi
1.      Pemeriksaan bukti-bukti berdasarkan pengujian, dan
2.      Menilai prinsip akuntansi yang digunakan, estimasi signifikan yang digunakan manajemen, dan penyajian laporan keuangan sebagai keseluruhan.
Keterkaitan dengan Laporan Keuangan
Akuntansi public bisa dikaitkan namanya dengan laporan keuangan auditan atau laporan keuangan bukan auditan. Seorang akuntan public terkait dengan laporan keuangan auditan apabila ia telah ditunjuk untuk mengaudit laporan keuangan berdasarkan standar auditing yang diterapkan Ikatan Akuntansi Indonesia dan telah menerapkan prosedur-prosedur auditing atas laporan keuangan tersebut.
Tingkat Tanggungjawab
Ketentuan terakhir dalam standar pelaporan eempat adalah bahwa auditor harus menunjukkan tingkat tanggungjawabnya tas dan pendapat yang diberikan. Hal ini dilaksanakan dengan digunakannya kata-kata “kami telah mengaudit”, “audit kami” , dan “menurut pendapat kami”. Penggunaan kata-kata tersebut tanpa pengecualian berarti bahwa auditor menanggung seluruh tanggungjawab atas pekerjaan yang telah dilakukan dan pendapat yang diberikan.


8 Arti dan Makna Dari Mimpi Buruk

Ada beragam mimpi yang datang. Tiap orang pun bisa memiliki bunga tidur yang berbeda-beda, tergantung pengalaman yang dihadapi. Tak ada yang bisa mengerti benar apa arti mimpi. Namun, Michael Vigo, penulis dari situs analis mimpi, DreamMoods.com mencoba mengartikan beberapa mimpi buruk terumum yang sering dikeluhkan.

Menurutnya, mimpi buruk merupakan sebuah cara dari pikiran bawah sadar untuk menarik perhatian Anda dan memberitahu bahwa Anda sedang berada dalam situasi yang sudah Anda coba hindari dan jelas-jelas menyusahkan Anda. Perhatikan dan hadapi isu tersebut, sarannya. Berikut beberapa mimpi buruk yang terumum dan artinya:

Ditembak senjata api
Hal ini berarti Anda sedang merasa terkonfrontir dalam kehidupan nyata. Anda merasa sebagai korban dalam beberapa situasi.

Gigi tanggal
Ini adalah mimpi terumum. Gigi merupakan salah satu bagian tubuh yang mencerminkan sifat menarik seseorang. Karenanya, hal ini berakar dari sebuah penolakan atau ketakutan, atau konsekuensi dari penambahan usia. Peneliti mimpi menemukan bahwa para wanita yang mengalami menopause melaporkan mengalami mimpi giginya tanggal. Ini adalah sebuah petunjuk bahwa mimpi yang menyangkut gigi tanggal seringkali berhubungan dengan penambahan usia dan/ merasa tak menarik, serta kurang feminin.

Terperangkap
Jika Anda bermimpi sedang berada dalam sebuah perangkap, maka ini mengisyaratkan bahwa Anda merasa terkungkung dan tidak bebas mengeluarkan pendapat Anda, baik itu di pekerjaan, dalam kesehatan, atau dalam hubungan personal. Anda mungkin berada dalam sebuah rutinitas dan lelah dengan monotonnya keseharian.

Tenggelam
Anda merasa kelelahan akan emosi. Masalah yang menekan bisa jadi kembali dan menghantui Anda. Anda bisa jadi terlalu cepat dalam berusaha mencari tahu isi pikiran terdalam Anda. Anda sebaiknya bertindak lebih waspada dan perlahan. Jika dalam mimpi, Anda tenggelam hingga meninggal, maka ini berarti sebuah kelahiran kembali. Jika Anda berhasil keluar dari kolam atau lautan yang menenggelamkan Anda, maka hal ini menandakan sebuah keberhasilan untuk keluar dari situasi yang mencekam Anda di kehidupan nyata.

Kematian Anda
Meski mimpi semacam ini membawa ketakutan dan kecemasan, hal ini bukan sesuatu yang harus ditakuti, karena seringkali ini merupakan simbol positif. Memimpikan kematian Anda biasanya berarti ada perubahan besar yang menanti Anda. Dalam sisi negatifnya, memimpikan kematian Anda bisa jadi menjelaskan keterlibatan dalam sebuah hubungan yang menyakitkan atau tidak sehat, serta perlakuan yang destruktif.

Dikejar-kejar
Hal ini menandakan bahwa Anda sedang menghindari sebuah situasi yang tak bisa Anda taklukkan. Ini merupakan sebuah bentuk insecurity. Secara khusus, untuk memimpikan bahwa Anda dikejar-kejar oleh sebuah binatang menggambarkan bahwa Anda sedang menahan diri dari kemarahan atau ekspresi diri yang tak Anda sadari, yang kemudian terwakili oleh binatang tadi. Atau, bisa juga mengartikan bahwa Anda sedang berlari menjauh dari sebuah ketakutan yang amat sangat.

Menyetir mobil yang tak bisa dikendalikan
Ini merupakan sebuah peringatan dini bahwa Anda sedang kekurangan kestabilan atas hidup Anda. Hidup Anda kehilangan kendali dan Anda memerlukan sebuah perubahan signifikan. Jika Anda bermimpi sedang menyetir mobil yang tak bisa dikendalikan itu, ini berarti bahwa Anda perlu mengambil kendali dari hidup Anda. Anda bisa jadi sedang tak ingin mengambil tanggung jawab atas tindakan yang Anda lakukan.

Kiamat
Untuk memimpikan akhir dari dunia menceritakan bahwa Anda sedang berada dalam sebuah level stres yang tinggi. Anda bisa jadi sedang merasa rapuh dan rentan dalam suatu situasi.

Tidak bisa bernapas
Bermimpi bahwa Anda tak bisa bernapas mengatakan bahwa tubuh Anda sedang merasa kelelahan yang amat sangat. Mereka yang memiliki masalah asma juga seringkali memimpikan dirinya kehabisan napas.

Hal ini bukan bersifat kepastian, namun berupa perkiraan dari pengamatan. Apakah Anda pernah memiliki pengalaman mimpi buruk yang teramat sangat dan akhirnya menemukan apa arti mimpi tersebut?

Anjing Paling Mini di Dunia Panjangnya 15,2 cm



Paha anjing ini hanya sebesar gula bambang, tingginya ketika berdiri hanya setinggi kaleng coca cola, panjangnya dari hidung hingga ekor hanya 15,2 cm, beratnya tidak sampai 1 kg. nama anjing itu adalah “brandy hadiah Tuhan”, pada januari 2005 mendapat Guinness World Records, menjadi “anjing paling kecil di seluruh dunia”.

Daily Mail newspaper Inggris tgl 23 melaporkan, setelah 3 thn, “brandy hadiah Tuhan” bukan saja tidak tumbuh besar, bahkan karena tubuh sangat kecil tidak bisa menggonggong. Paulin mengatakan, dia pernah membawa “brandy hadiah Tuhan” naik pesawat dalam negeri Amerika, “saya punya kantong yang bisa masuki ia ke dalam, karena ia tidak bersuara, maka tidak ada yang memperhatikannya, setelah kita di pesawat kita keluarkan dia, menaruh ia di bawah tempat duduk. Tidak ada yang tahu ia di sana.”

Sebagai Tuan anjing super mini, Pauline juga sangat hati-hati. Misalnya, kaki “brandy hadiah Tuhan” sangat halus kecil, maka tidak mampu loncat ke atas dan ke bawah. Dia kecil sampai bisa melewati lubang pagar teralis, beruntung dia tidak tahu keluyuran. “brandy hadiah Tuhan” hanya bisa makan makanan anjing atau telor goreng yang di hancurkan, makanan yang terlalu besar dia tidak bisa telan. Ketika Pauline memandikannya, sangat hati-hati agar tidak melukainya.

Walaupun “brandy hadiah Tuhan” datang dari tempat pembiakan latihan pembalap anjing, namun tubuh mininya adalah alami, sangat sehat. Setelah memperoleh record “anjing yang paling mini di seluruh dunia”, “brandy hadiah Tuhan” memenuhi acara di TV, seperti Oupula Discovered, selamat pagi Amerika dan Jay Leno. Namun kata Pauline, pada awalnya ketika dia memutuskan akan memelihara “brandy hadiah Tuhan” bukan agar dia bisa terkenal namun karena ia sangat lucu.

penyelesaian audit dan tanggung jawab pasca audit

PENYELESAIAN PEKERJAAN LAPANGAN
Dalam menyelesaikan pekerjaan lapangan, auditor melaksanakan prosedur-prosedur audit tertentu guna memperoleh bukti tambahan. Meliputi:
1.       Melakukan review atas peristiwa kemudian.
2.       Membaca notulen rapat
3.       Mendapatkan bukti mengenai litigasi, klaim, dan penilaian.
4.       Mendapatkan surat representasi klien
5.       Melaksanakan prosedur analitis
MELAKUKAN REVIEW PERISTIWA-PERISTIWA KEMUDIAN
Tanggung jawab auditor untuk menilai kewajaran laporan keuangan klien tidak terbatas pada pemeriksaan atas peristiwa dan transaksi yang terjadi hinggatanggal neraca. AU 560, Subsequent Events, menyatakan bahwa auditor jugamempunyai tanggung jawab spesifik atas peristiwa dan transaksi yang:
a.       Mempunyai pengaruh material terhadap laporan keuangan
b.      Merupakan peristiwa penting dan bersifat luar biasa
c.       Terjadi sesudah tanggal neraca tetapi sebelum penerbitan laporan keuangan serta laporan auditor
Sebelum menyusun draft laporan audit, auditor harus mereview peristiwa-peristiwa kemudian. Review ini terutama bertujuan untuk menentukan apakah peristiwa tersebut mempunyai dampak yang sedemikian material terhadap penyajian informasi di dalam laporan keuangan klien.
Tipe Peristiwa Kemudian
Berikut adalah dua jenis peristiwa kemudian menurut AU 560.03 dan .05 :
a.       Peristiwa Kemudian Tipe 1
Memberikan bukti tambahan berkenaan dengan kondisi yang ada pada tanggal neraca dan mempengaruhi estimasi yang inheren dalam proses penyusunan laporan keuangan. Peristiwa tipe 1 tersebut memerlukan penyesuaian atas laporan keuangan.
b.      Peristiwa Kemudian Tipe 2
Memberikan bukti berkenaan dengan kondisi yang tidak ada pada tanggal neraca tetapi muncul setelah tanggal tersebut. Peristiwa tipe 2 tersebut memerlukan pengungkapan dalam laporan, atau dalam kasus yang sangat material, menyertakan data pro-forma pada laporan keuangan.
Prosedur Pengauditan dalam Periode Kemudian
Auditor harus mengidentifikasi dan mengevaluasi peristiwa kemudian sampai tanggal laporan auditor. Tanggung jawab tersebut dapat dilaksanakan dalam dua cara berikut:
a.  Mewaspadai peristiwa kemudian dalam melaksanakan pengujian substantif akhir tahun seperti pengujian pisah batas dan mencari kewajiban yang belum tercatat.
b.  Melaksanakan prosedur audit yang ditetapkan dalam AU 560.12 atau mendekati akhir pekerjaan lapangan.
a.       Membaca laporan keuangan interim akhir yang tersedia serta membandingkannya dengan laporan yang sedang dilaporkan dan melakukan perbandingan lainnya yang sesuai dalam situasi-situasi itu.
b.      Menanyakan kepada manajemen yang bertanggung jawab atas hal-hal keuangan dan akuntansi mengenai:
·         Setiap kewajiban kontinjen atau komitmen besar yang ada pada tanggal neraca atau tanggal pertanyaan itu diajukan.
·         Setiap perubahan yang signifikan pada modal saham, hutang jangka panjang atau modal kerja sampai tanggal pertanyaan diajukan.
·         Status saat ini dari pos-pos yang sebelumnya dipertanggungjawabkan atas dasar data sementara, pendahuluan, atau tidak konklusif.
·         Apakah setiap penyesuaian yang tidak biasa telah dilakukan sejak tanggal neraca.
c.       Membaca notulen rapat dewan komisaris, pemegang saham, dan komite lainnya yang sesuai.
d.      Menanyakan ahli hukum klien mengenai litigasi, klaim, dan penilaian. Mendapatkan surat representasi dari klien mengenai perisiwa kemudian yang menurut pendapatnya akan memerlukan penyesuaian atau pengungkapan.
e.      Melakukan tanya-jawab tambahan atau melaksanakan prosedur tambahan yang dipandang perlu dalam situasi-situasi itu.

Pengaruh Atas Laporan Auditor
Kegagalan untuk mencatat atau mengungkapkan secara tepat peristiwa kemudian dalam laporan keuangan akan menimbulkan penyimpangan dari laporan standar auditor.
 MEMBACA NOTULEN RAPAT
Notulen rapat pemegang saham, dewan komisaris, dan subkomitenya, seperti komite keuangan dan komite audit, dapat memuat hal-hal yang mempunyai signifikansi audit. Contohnya: dewan komisaris dapat mengotorisasi penerbitan obligasi baru, pembelian saham treasuri, dan lain lain. Pembacaan notulen rapat biasanya dilakukan segera setelah hal itu tersedia, guna memberikan auditor kesempatan maksimum untuk menilai signifikansi auditnya. Misalnya: informasi yang dipelajari dari catatan tersebut menyebabkan auditor untuk mengubah pengujian substantif. Dan pembacaan notulen rapat oleh auditor harus didokumentasikan dalam kertas kerja
MENDAPATKAN BUKTI TENTANG TUNTUTAN HUKUM, KLAIM, DAN KEPUTUSAN PENGADILAN
Dalam FASB nomor  5, mendefinisikan kontinjensi sebagai kondisi, situasi, atau serangkaian situasi yang ada yang melibatkan ketidakpastian mengenai kemungkinan keuntungan (kontinjensi keuntungan) dan kerugian (kontinjensi kerugian). Kontinjensi keuntungan hanya akan menimbulkan masalah yang relatif kecil, sedangkan kontinjensi kerugian seringkali merupakan masalah yang signifikan bagi auditor. Kontinjensi kerugian meliputi kewajiban yang potensial dari perselisihan pajak penghasilan, klaim, dan lain-lain mempersyaratkan bahwa kontinjensi kerugian harus:
1)      Dicatat sebagai utang bersyarat
2)      Diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan dan
3)      Diabaikan
Kontingensi-kontingensi tersebut meliputi kewajiban potensial yang timbul dari kekurangan pembayaran pajak, garansi produk, garansi utang dari pihak lain, dan tuntutan hokum, klaim, dan keputusan pengadilan.
Pertimbangan Audit
Audit harus mendapatkan bukti tentang:
·         Adanya suatu kondisi, situasi, atau sejumlah keadaan yang mengindikasikan ketidakpastian tentang kemungkinan kerugian terhadap perusahaan yang berasal dari tuntutan hokum, klaim, atau keputusan pengadilan.
·         Periode di mana penyebab yang mendasari tindakan hukum terjadi.
·         Tingkat probabilitas hasil yang tidak menguntungkan.
·         Jumlah atau rentang kerugian yang potensial.
Surat Kepada Penasehat Hukum Klien
AU 337.08 menunjukkan bahwa surat pertanyaan audit kepada ahli hukum klien merupakan sarana utama bagi auditor untuk mendapatkan informasi pendukung tentang LCA yang diserahkan oleh manajemen. Surat tersebut harus dikirimkan oleh manajemen kepada setiap ahli hukum yang telah ditugaskan oleh klien.
Pengaruh Jawaban Terhadap Laporan Auditor
Jawaban ahli hukum mungkin tidak mempunyai pengaruh terhadap laporan auditor. Yaitu, auditor dapat mengeluarkan suatu laporan standar dengan pendapat wajar tanpa pengecualian. Hal ini dapat terjadi apabila jawabannya menunjukkan bahwa berdasarkan penyelidikan yang layak atas masalah yang dihadapi, terdapat:
1.       Probabilitas yang tinggi atas hasil yang menguntungkan
2.       Masalah yang dihadapi adalah tidak material
MENDAPATKAN SURAT PERNYATAAN DARI KLIEN
Untuk memenuhi standar pekerjaan lapangan ketiga, Auditor diwajibkan untuk mendapatkan representasi tertulis tertentu dari manajemen dalam memenuhi sandar ketiga pekerjaan lapangan. Hal ini dapat dicapai melalui surat representasi klien, yang umumnya dikenal sebagai surat rep. AU 333,Management Representations, menjelaskan bahwa representasi merupakan bagian dari barang bukti tetapi bukan pengganti penerapan prosedur audit yang diperlukan untuk mendapatkan dasar yang layak atas suatu pendapat. Representasi manajemen harus dapat :
·         Mengkonfirmasikan representasi lisan yang diberikan kepada auditor
·         Mendokumentasikan kelayakan yang berkelanjutan dari representasi tersebut
·         Mengurangi kemungkinan kesalahpahaman mengenai representasi manajemen
Isi Surat Pernyataan Manajemen
Menurut AU 333.06 terdapat empat kategori utama dari representsi spesifik yang harus termasuk dalam surat rep. Surat representasi itu harus mencakup representasi mengenai :
·         Laporan keuangan
·         Kelengkapan informasi
·         Pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan
·         Peristiwa kemudian
Pengaruh Terhadap Laporan Auditor
Apabila auditor menerima surat rep dan mampu mendukung representasi manajemen, maka suatu laporan audit standar dapat dikeluarkan. Tetapi, jika ada keterbatasan pada lingkup audit jika auditor tidak dapat :
1.       Memperoleh surat rep
2.       Mendukung representasi manajemen yang bersifat material bagi laporan keuangan dengan prosedur audit lainnya
Pembatasan lingkup tersebut akan mengakibatkan penyimpangan dari laporan standar auditor baik melalui pendapat wajar dengan kualifikasi maupun penolakan pemberian pendapat.
MELAKSANAKAN PROSEDUR ANALITIS
Prosedur analitis disyaratkan dalam penyelesaian audit sebagai review keseluruhan atas laporan keuangan. SAS 56 (AU 329.22) menyatakan bahwa tujuan dari review keseluruhan adalah untuk membantu auditor menilai kesimpulan yang dicapai dalam audit dan dalam mengevaluasi penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Dalam melakukan review keseluruhan, auditor membaca laporan keuangan dan catatan serta mempertimbangkan kelayakan bukti yang diperoleh dalam menanggapi saldo dan hubungan yang tidak biasa serta tidak terduga yang :
·         Diantisipasi dalam perencanaan audit
·         Diidentifikasi selama audit dalam pengujian substantive

Dalam melakukan reviewe keseluruhan atas kewajaran penyajian laporan keuangan, data perusahaan dapat dibandingkan dengan (1) hasil yang diharapkan entitas berdasarkan dinamika bisnis yang mendasarinya, (2) data yang tersedia mengenai kinerja industri, dan (3) data nonkeuangan yang relevan seperti unit yang diproduksi atau dijual serta jumlah karyawan.
Suatu review keseluruhan biasanya akan membandingkan kinerja keuangan entitas yang dilaporkan dengan sasaran strategisnya atas pendapatan, pelanggan, dan pangsa pasar atas efisiensi dari proses inti serta kesesuaian ukuran nonkeuangan dengan gambaran keseluruhan yang dilaporkan dalam laporan keuangan.







Rabu, 29 Oktober 2014

SIFAT SIKLUS INVESTASI DAN PEMBELANJAAN

AUDIT SIKLUS INVESTASI DAN PEMBELANJAAN

index.jpg

Kelompok 4
Nama Anggota:
Made Puspita Christanti                     1215351152
Meli Yuliana                                       1215351162
A.A Putu Nandya Indah Pratami       1215351177
Ni Ketut Riski Agustini                      1215351178
                                                                                              



FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
 UNIVERSITAS UDAYANA

PROGRAM EKSTENSI 2014



PEMBAHASAN


SIFAT SIKLUS INVESTASI DAN PEMBELANJAAN
Aktivitas investasi (investing activities) adalah pembelian dan penjualan tanah, bangunan, peralatan serta aktiva lain yang umumnya tidak ditahan untuk dijual kembali. Di samping itu, aktivitas investasi juga mencakup pembelian dan penjualan instrument keuangan yang tidak dimaksudkan untuk tujuan perdagangan. Suatu entitas mengakuisisi aktiva-aktiva ini karena aktiva itu diperlukan untuk mendukung operasi dan proses intinya.
Langkah pertama dalam mengaudit aktivitas investasi meliputi pemahaman atas aktiva yang diperlukan untuk mendukung operasi entitas bersangkutan (misalnya mesin, peralatan, fasilitas, tanah atau sumber daya alam) dan tingkat pengembalian yang diharapkan perusahaan akan dicapai dari aktiva yang mendasarinya. Langkah kedua dalam mengaudit investasi meliputi penentuan aktiva apa yang diakuisisi selama periode berjalan. Biasanya pertumbuhan aktiva tetap harus memperlihatkan hubungan yang konsisten dengan pertumbuhan pendapatan. Aktiva jangka panjang biasanya cukup stabil bagi kebanyakan entitas. Dengan kata lain, sebagian besar aktiva tetap yang ada pada akhir tahun juga ada pada awal tahun. Karenanya, auditor sering memusatkan strategi audit pada audit perubahan aktiva jangka panjang, bukan pada keseluruhan populasi aktiva jangka panjang.
Aktivitas Pembelanjaan (financing activities) mencakup transaksi dan peristiwa dimana kas diperoleh dari atau dibayarkan kembali kepada kreditor (pembelanjaan dengan utang) atau pemilik (pembelanjaan dengan ekuitas). Aktivitas pembelanjaan dapat meliputi, misalnya, mendapatkan pinjaman, lease modal, menerbitkan obligasi, atau menerbitkan saham preferen atau saham biasa. Aktivitas pembelanjaan juga akan mencakup pembayaran untuk melunasi utang, mengakuisisi kembali saham (treasury stock), dan membayar dividen.

SIKLUS INVESTASI
1.      TUJUAN AUDIT
Tujuan audit spesifik untuk audit atas aktiva tetap dalam siklus investasi. Tujuan-tujuan ini merupakan hal yang utama bagi siklus ini dalam kebanyakan audit. Setiap tujuan diambil dari asersi-asersi manajemen implisit atau eksplisit tentang transaksi-transaksi siklus investasi yang berkaitan dengan aktiva jangka panjang.
2.      PERTIMBANGAN DALAM PERENCANAAN AUDIT
a.      Materialitas
Pertimbangan utama dalam mengevaluasi alokasi materialitas ini adalah penentuan besarnya salah saji yang akan mempengaruhi keputusan seorang pemakai laporan keuangan yang layak. Pertimbangan kedua adalah hubungannya dengan biaya untuk mendeteksi kesalahan.
b.      Risiko Bawaan
Risiko bawaan (inherent risk) yang berkaitan dengan asersi eksistensi/keberadaan seringkali rendah karena aktiva tetap tidak mudah dicuri. Risiko bawaan akan keberadaan dapat meningkat sampai ke tingkat sedang atau tinggi karena potensi bahwa aktiva dibesituakan atau tidak digunakan lagi, mungkin tidak dihapuskan. Asersi kelengkapan dapat mencapai tingkat sedang sampai tinggi dalam kasus aktiva-aktiva konstruksi, atau lease modal yang mungkin dicatat sebagai lease operasi Karena kerumitan akuntansi untuk lease. Tergantung pada industri dan tingkat kesulitan yang berkaitan dengan estimasi umur manfaat dan nilai sisa serta kerumitan metode penyusutan, risiko inheren yang menyangkut asersi penilaian mungkin dinilai sedang atau tinggi berkaitan dengan estimasi akuntansi dalam hubungannya dengan estimasi beban penyusutan.
c.       Risiko Prosedur Analitis
Prosedur analitis bersifat efektif dari segi biaya dan hal itu dapat membantu auditor dalam  mengevaluasi kelayakan laporan keuangan. Aktiva tetap secara relative harus stabil, dan akibatnya, prosedur analitis dapat memberikan keyakinan tentang kewajaran penyajian laporan keuangan.
d.      Risiko Pengendalian
Transaksi yang secara individu bersifat material, seperti akuisisi tanah atau bangunan, atau pengeluaran modal yang besar, biasanya merupakan pokok dari pengendalian terpisah yang mencakup anggaran modal dan otorisasi oleh dewan komisaris. Akibatnya, risiko pengendalian mungkin rendah untuk asersi keberadaan atau keterjadian. Pengendalian yang berkaitan dengan asersi penilaian mencakup pengendalian atas estimasi akuntansi menyangkut beban penyusutan.

3.      PENGUJIAN SUBSTANTIF ATAS SALDO AKTIVA TETAP
a.      Menentukan Risiko Deteksi
Pengujian substantif yang dilakukan oleh auditor akan jauh lebih ekstensif dalam audit pertama atas seorang klien dibandingkan dengan penugasan yang berulang. Dalam audit pertama, harus diperoleh bukti tentang ketepatan saldo awal akun dan kepemilikan aktiva bersangkutan. Seringkali risiko terbesar yang berkaitan dengan penugasan pertama meliputi informasi audit tentang saldo-saldo awal, yang mungkin memerlukan transaksi audit yang banyak terjadi dalam tahun-tahun sebelumnya.
Dalam penugasan yang berulang, auditor akan memusatkan perhatian pada transaksi tahun berjalan. Ketika menentukan risiko deteksi, auditor harus mempertimbangkan sejauh mana klien mempunyai aktiva konstruksi, lease modal yang signifikan, dan penambahan serta penarikan yang signifikan dari aktiva-aktiva itu. Auditor juga perlu mengevaluasi asumsi-asumsi kunci yang bertalian dengan estimasi akuntansi atas beban penyusutan. Akhirnya risiko deteksi dalam penugasan yang berulang seringkali tergantung pada pengendalian internal siklus pengeluaran.
b.      Perancangan Pengujian Substantif
·         Prosedur Awal
Suatu prosedur awal yang penting termasuk memperoleh pemahaman tentang bisnis dan industri bersangkutan. Prosedur ini memberikan sarana untuk mengevaluasi kelayakan bukti yan diperoleh pada tahap audit berikutnya. Auditor menentukan bahwa saldo buku besar umum awal untuk akun-akun aktiva tetap telah sesuai dengan kertas kerja periode sebelumnya. Berikutnya, auditor harus menguji ketepatan matematis dari skedul penambahan dan pelepasan yang disiapkan klien serta merekonsiliasi totalnya dengan perubahan saldo buku besar umum terkait untuk aktiva tetap selama periode berjalan. Selain itu, auditor yang harus menguji skedul-skedul itu dengan memvouching pos-pos pada skedul tersebut ke ayat jurnal dalam buku besar, dan menelusuri ayat jurnal buku besar ke skedul bersangkutan untuk menentukan bahwa penyajian yang akurat atas catatan akuntansi yang disiapkan dari buku tersebut telah dilakukan.
·         Prosedur Analitis
Suatu bagian yang penting dari siklus investasi adalah menentukan bahwa informasi keuangan yang akan diaudit konsisten dengan ekspektasi auditor. Ketika melaksanakan prosedur analitis, auditor harus mempertahankan tingkat skeptisme profesional yang layak dan menyelidiki hasil-hasil yang tidak normal. Jika hasil prosedur analitis konsisten dengan ekspektasi auditor, maka strategi audit dapat dimodifikasi untuk mengurangi luas pengujian rincian transaksi dan saldo.
·         Pengujian Detil Transaksi
Pengujian-pengujian  substantive ini mencakup tiga jenis transaksi yang berkaitan dengan aktiva tetap: (1) penambahan, (2) pelepasan, dan (3) reparasi serta pemeliharaan.
1)      Pencocokan Tambahan Aktiva Tetap dengan Bukti Pendukung
Semua penambahan yang normal harus didukung oleh dokumentasi berupa otorisasi dalam notulen rapat, voucher, faktur, kontrak dan cek-cek yang dibatalkan. Jumlah yang dicatat harus divouching untuk mendukung dokumentasi (AT1). Vouching atas penambahan memberikan bukti tentang asersi eksistensi/keberadaan atau keterjadian (existence and occurrence-AT1), hak dan kewajiban (rights and obligations – HK1) dan penilaian atau alokasi (valuation or allocation – NA2).
2)      Pencocokan Penghentian Aktiva Tetap ke Dokumen Pendukung
Bukti-bukti tentang penjualan, penarikan, dan tukar-tambah harus tersedia bagi auditor dalam bentuk nota pembayaran kas, otorisasi tertulis, dan perjanjian penjualan. Dokumentasi tersebut harus ditelaah secara seksama untuk menentukan ketepatan dan kelayakan catatan akuntansi, termasuk pengakuan keuntungan atau kerugian, (jika ada).

3)      Review Ayat Jurnal atas Biaya Reparasi dan Pemeliharaan
Tujuan auditor dalam melaksanakan pengujian ini adalah untuk menentukan kelayakan dan konsistensi pembebanan ke beban reparasi. Kelayakan meliputi pertimbangan mengenai apakah klien telah melakukan pembebanan yang tepat antara pengeluaran modal dan pendapatan. Untuk pos-pos ini, auditor harus memeriksa dokumentasi pendukung, seperti faktur penjual, pesanan kerja perusahaan, dan otorisasi manajemen guna menentukan kelayakan beban atau kebutuhan akan ayat jurnal penyesuaian (AT3).

·         Penngujian Detil-detil Saldo
Tiga prosedur dalam kategori pengujian substantif ini adalah: (1) menginspeksi aktiva tetap, dan (2) memeriksa dokumen dan kontrak hak kepemilikan.
1)      Inspeksi Aktiva Tetap
Inspeksi aktiva tetap akan memungkinkan auditor untuk mendapatkan pengetahuan pribadi yang langsung mengenai eksistensinya. Dalam penugasan yang berulang, inspeksi yang terinci dapat dibatasi pada pos-pos yang tercantum pada skedul penambahan aktiva tetap.
2)      Pemeriksaan Dokumen Pemilikan dan Kontrak Hak Kepemilikan
Kepemilikan atas kendaraan dapat ditetapkan dengan memeriksa sertifikat hak (BPKB), sertifikat pendaftaran (STNK), dan polis asuransi. Untuk peralatan, perabotan, dan furniture, faktur yang telah dibayar mungkin merupakan bukti terbaik mengenai kepemilikan. Bukti tentang kepemilikan dalam industri real estate apartemen dapat ditemukan dalam akte pembelian, polis asuransi pemilikan, tagihan pajak property, tanda terima pembayaran hipotek dan polis asuransi kebakaran.
·         Pengujian Rincian Saldo: Estimasi Akuntansi
Dua pengujian yang penting atas estimasi akuntansi adalah pengujian substantif untuk (1) mereview penyisihan penyusutan (NA1,2) dan (2) mengevaluasi penurunan nilai aktiva tetap (NA3).
1)      Review Besarnya Depresiasi
Dalam pengujian ini, auditor mencari bukti tentang kelayakan, konsistensi, dan ketepatan beban penyusutan. Penentuan kelayakan penyisihan penyusutan meliputi pertimbangan atas factor-faktor seperti (1) sejarah masa lalu klien dalam mengestimasi umur manfaat dan (2) umur manfaat yang tersisa atas aktiva yang ada.
2)      Penurunan Nilai Aktiva Tetap
Auditor harus mengevaluasi apakah klien telah memperhitungkan secara layak penurunan nilai (impairment) aktiva tetap apabila terjadi perubahan yang material  bagaimana suatu aktiva digunakan, atau apabila terjadi perubahan yang material dalam lingkungan bisnis.
·         Perbandingan Penyajian Di Laporan Dengan Prinsip Akuntansi Berlaku Umum
Ketentuan tentang cara penyajian laporan aktiva tetap dalam keuangan bersifat ekstensif (SU1,2,3). Properti yang digadaikan sebagai jaminan atas pinjaman harus diungkapkan. Kelayakan pengungkapan klien yang berkaitan dengan aktiva menurut lease dapat ditentukan dengan melihat kembali ke pengumuman akuntansi otoritatif dan perjanjian lease yang berkaitan.

SIKLUS PEMBELANJAAN
Siklus pembelanjaan (financing cycle) mencakup dua kelompok transaksi utama sebagai berikut:
a)      Transaksi utang jangka panjang mencakup peminjaman dari obligasi, hipotek, wesel, dan utang, serta pembayaran pokok dan bunga yang berkaitan.
b)     Transaksi ekuitas pemegang saham mencakup penerbitan dan penarikan saham preferen serta saham biasa, transaksi saham treasuri atau treasury stock, dan pembayaran dividen.

1.      TUJUAN AUDIT
Dibawah ini menunjukkan daftar sejumlah jutuan khusus untuk rekening-rekening yang dipengaruhi oleh transaksi-transaksi pembelanjaan. Pertimbangan pertimbangan serta prosedur-prosedur untuk mencapai tujuan tersebut akan dijelaskan sbb.

Kategori Asersi
Tujuan Audit Kelompok Transaksi
Tujuan Audit Saldo Rekening
Keberadaan atau keterjadian
Transaksi-transaksi biaya bunga dan transaksi rugi-laba-lainnya yang telah dibukukan mencerminkan pengaruh dari transaksi dan kejadian utang jangka panjang yang terjadi dalam tahun yang diperiksa (AT1)
Saldo utang jangka panjang dan pembuku-an mencerminkan utang yang ada pada tanggal neraca (AT2)

Saldo equitas pemegang saham (modal) dalam pembukuan mencerminkan hak yang ada pada tanggal neraca (AT3)
Kelengkapan
Semua biaya bunga dan transaksi pendapatan lain yang berkaitan dengan utang jangka panjang yang terjadi selama periode yang diperiksa telah dicatat (L1)
Saldo-saldo utang jangka panjang mencerminkan semua utang jangka panjang kepada kreditur per tanggal neraca (L2)

Saldo equitas pemegang saham mencerminkan klaim pemilik atas aktiva perusahaan perusahaan (L3)
Hak dan kewajiban

Semua saldo utang  jangka panjang dalam pembukuan mencerminkan kewajiban perusahaan (HK1)

Saldo equitas pemegang saham mencerminkan klaim pemilik atas aktiva perusahaan (HK2)
Penilaian atau pengalokasian
Transaksi biaya bunga dan pendapatan lain yang berkaitan dengan utang jangka panjang telah dinilai dengan tepat sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum (NA1)
Saldo-saldo utang jangka panjang  (NA2) dan ekuitas pemegang saham (NA3) telah dinilai dengan tepat sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum
Penyajian dan pengungkapan
Transaksi utang jangka panjang dan ekuitas pemegang saham ( modal ) telah diidentifikasi dan dikelompokkan dengan benar dalam laporan keuangan (SU1)
Saldo-saldo utang jangka panjang dan ekuitas pemegang saham telah diidentifikasi dan dikelompokkan dengan tepat dalam laporan keuangan (SU2)

Semua syarat, ketentuan,komitmen, dan kewajiban yang berkaitan dengan utang jangka panjang telah diungkapkan dengan memadai ( SU3)

Semua hal yang berkaitan dengan penerbitan saham seperti nilai pari atau nilai ditetapkan, saham diotorisasi dan saham ditempatkan, serta jumlah saham yang dibeli kembali, telah diungkapkan (SU4)

2.      PERTIMBANGAN DALAM PERENCANAAN AUDIT
a.      Materialitas.
Ekuitas pemegang saham jelas merupakan komponen neraca yang material. Pengaruh transaksi siklus pembelanjaan terhadap laporan laba rugi juga sangat bervariasi dalam hal signifikansinya seperti juga pengaruh dividen terhadap laba ditahan.

b.      Risiko Bawaan.
Risiko salah saji dalam melaksanakan dan mencatat transaksi siklus pembelanjaan biasanya rendah. Dalam banyak perusahaan, transaksi ini tidak sering terjadi, kecuali untuk pembayaran dividend bunga, yang sering ditangani oleh agen-agen dari luar.
c.       Risiko Prosedur Analitis.
Prosedur analitis ini memberikan indikator tentang kebutuhan entitas akan pembelanjaan, kemampuannya, untuk melunasi utang, dan kelayakan biaya bunga (termasuk baik beban bunga maupun bunga yang dikapitalisasi).
d.      Risiko Pengendalian.
Aplikabilitas komponen pengendalian internal untuk transaksi dan saldo siklus pembelanjaan serupa dalam banyak hal dengan yang telah diuraikan sebelumnya untuk siklus investasi.

3.      PENGUJIAN SUBSTANTIF ATAS SALDO UTANG JANGKA PANJANG
Dari sudut pandang auditing, wesel bayar, hutang hipotek, dan hutang obligasi mempunyai karakteristik yang serupa. Pada umumnya, bentuk hutang ini (1) melibatkan perjanjian kontraktual berbunga, (2) memerlukan persetujuan dari dewan direksi, dan (3) dapat dijamin dengan penggadaian atau agunan. Untuk akun-akun ini, terdapat masalah yang relatif sedikit dalam mencapai tujuan audit.
Transaksi hutang jangka panjang ini jarang menimbulkan pisah batas akhir tahun. Jadi, pengujian substantif atas saldo hutang jangka panjang dapat dilaksanakan baik sebelum maupun sesudah tanggal neraca.
a.      Penentuan Risiko Deteksi
Berhubung sifat dan volume transaksi pada kebanyakan jenis utang jangka panjang sangat jarang, maka risiko inheren seringkali rendah untuk semua asersi saldo akun yang berkaitan kecuali kelengkapan dan penilaian atau alokasi. Risiko inheren untuk asersi ini mungkin berada pada tingkat sedang atau tinggi karena kerumitan yang terlibat dalam menghitung amortisasi diskonto atau premi obligasi. Berdasarkan pertimbangan faktor-faktor ini dan setiap penilaian risiko pengendalian yang relevan, tingkat risiko deteksi yang tepat dapat ditentukan untuk setiap asersi signifikan yang berkaitan dengan saldo hutang jangka panjang.
b.      Merancang Pengujian Substantif
Dari pengujian yang mungkin dilakukan ini, auditor merancang program audit untuk memenuhi tingkat risiko deteksi yang dapat diterima atas setiap asersi. Auditor mengandalkan terutama pada (1) komunikasi langsung dengan sumber independen dari luar, (2) penelaahan dokumentasi, dan (3) perhitungan kembali untuk mendapatkan bukti kompeten yang mencakupi mengenai asersi yang bersangkutan dengan saldo hutang jangka panjang.
·         Prosedur-prosedur Awal
Di sini penting untuk mendapatkan pemahaman tentang bisnis dan industrinya, menentukan kebutuhan entitas akan pembelanjaan eksternal, dan kemampuan untuk melunasi hutang. Karena pembelanjaan begitu jelas berkaitan dengan aktivitas investasi, maka auditor dapat melaksanakan prosedur-prosedur tersebut secara serentak.
Karena ada kemungkinan pengujian substantif dapat dilakukan atas masing-masing daftar yang dibuat sebelumnya, maka prosedur ini berkaitan dengan komponen ketepatan matematis dan klerikal dari asersi penilaian atau alokasi, serta dilaksanakan dengan menggunakan skedul hutang jangka panjang sebagai dasar untuk pengujian substantif tambahan.
·         Prosedur Analitis
Suatu bagian penting dari audit atas hutang jangka panjang adalah menentukan bahwa informasi keuangan yang akan diaudit konsisten dengan harapan auditor. Auditor juga harus mengevaluasi pengungkapan mengenai jatuh tempo hutang dan perjanjian utang. Sebagai bagian dari tanggung jawab auditor atas evaluasi mengenai apakah suatu entitas dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya, auditor akan mengevaluasi kemampuan entitas itu untuk menghasilkan arus kas yang mencukupi guna memenuhi komitmen yang berkaitan dengan beban bunga (termasuk bunga yang dikapitalisasi), jatuh tempo hutang, dan perjanjian hutang. Ketika melaksanakan prosedur analitis, auditor harus mempertahankan tingkat skeptisisme profesional yang tepat dan menyelidiki hasil-hasil yang abnormal.

·         Pengujian Detil Transaksi
Untuk obligasi, auditor harus mendapatkan bukti tentang nilai nominal dan hasil bersih obligasi itu pada tanggal penerbitan. Penerbitan instrumen hutang ini harus ditelusuri ke penerimaan kas sebagaimana yang dibuktikan oleh surat kiriman uang dari pialang. Pembayaran pokok hutang jangka panjang dapat diverifikasi dengan memeriksa voucher dan cek-cek yang dibatalkan; sementara pembayaran penuh dapat divalidasi dengan memeriksa wesel yang dibatalkan atau sertifikat obligasi. Bukti-bukti tentang transaksi semacam itu dapat tersedia dalam bentuk sertifikat obligasi yang dibatalkan dan penerbitan sertifikat saham yang berkaitan.
Apabila bunga obligasi dibayar oleh agen independen, maka auditor harus memeriksa laporan agen tentang pembayaran tersebut. Vouching atas ayat jurnal yang dicatat tidak akan mengungkapkan hutang jangka panjang yang belum tercatat.
·         Pengujian Detil-detil Saldo
Ada tiga pengujian substantif dalam kategori ini: (1) menilai otorisasi dan kontrak atas hutang jangka panjang, (2) mengkonfirmasi hutang dengan pemberi pinjaman dan perwalian obligasi, serta (3) menghitung kembali beban bunga.
·         Pembandingan Penyajian Di Laporan Dengan Prinsip Akuntansi Yang Berlaku Umum
Dalam penelitian ketepatan penggolongan dan pengungkapan utang jangka panjang yang dibuat klien, auditor harus memahami standar akuntansi keuangan (SAK). Pengujian terdahulu yang memeriksa kontrak utang dan mengkonfirmasi hutang memberikan data tentang klien untuk digunakan dalam perbandingan. Pengujian ini berkaitan dengan asersi penyajian dan pengungkapan.

4.      PENGUJIAN SUBSTANTIF ATAS SALDO EKUITAS PEMEGANG SAHAM (MODAL)
Seperti dalam kasus hutang jangka panjang, pengujian atas saldo ekuitas pemegang saham dapat dilakukan sebelum atau sesudah tanggal neraca. Untuk saldo-saldo ini, asersi penilaian atau alokasi dan penyajian atau pengungkapan adalah mempertahankan perbedaan antara modal disetor dan laba ditahan.
a.      Menentukan Risiko Deteksi
Penilaian risiko inheren untuk asersi-asersi yang berkenaan dengan saldo ekuitas pemegang saham tergantung pada sifat dan frekuensi transaksi yang mempengaruhi akun-akun bersangkutan. Transaksi saham yang bersifat rutin dalam perusahaan terbuka sering ditangani oleh register dan agen transfer. Dalam kasus tersebut, baik penilaian risioko inheren maupun pengendalian untuk asersi saldo akun yang dipengaruhi oleh transaksi tersebut mungkin rendah. Penilaian risiko inheren dan pengendalian mungkin lebih tingg jika ada transaksi non-rutin yang melibatkan penerbitan saham dalam akuisisi, sekuritas konvertibel, atau opsi saham.
b.      Merancang Pengujian Substantif
Suatu daftar pengujian substantif yang mungkin dilakukan atas saldo ekuitas pemegang saham dan tujuan audit spesifik yang berkaitan dengan setiap pengujian.
·         Prosedur-prosedur Awal
Auditor harus mendapatkan pemahaman tentang bisnis dan industri serta menentukan (1) kebutuhan entitas akan pembelanjaan eksternal dan (2) manfaat menggunakan pembelanjaan dengan ekuitas guna mendukung pertumbuhan entitas itu. Pembelanjaan dengan ekuitas dapat digunakan baik untuk mendukung aktivitas investasi, atau pun untuk mendukung investasi yang diperlukan dalam modal kerja (yakni, pertumbuhan persediaan dan piutang yang diperlukan untuk mengembangkan entitas itu).
·         Prosedur Analitis
Hubungan keuangan yan dinyatakan dalam rasio-rasio ini dapat bermanfaat untuk mengevaluasi kelayakan saldo-saldo ekuitas pemegang saham. Bukti yang diperoleh dari prosedur analitis ini berkaitan dengan asersi keberadaan atau keterjadian, kelengkapan, dan penilaian atau alokasi.
·         Pengujian Detil Transaksi
Kategori pengujian ini mencakup vouching ayat jurnal dalam akun modal disetor dan laba ditahan: (1) vouching ayat jurnal ke akun modal disetor, dan (2) vouching ayat juranl ke laba ditahan.
1)      Pencocokan Ayat-Ayat jurnal ke Rekening Modal Saham Disetor dengan Dokumen Pendukung
Setiap perubahan dalam rekening modal saham harus dicocokkan ke dokumen pendukungnya. Untuk penerbitan saham baru, auditor bisa memeriksa bukti penerimaan kas dari hasil penerbitan saham tersebut. Apabila untuk penerbitan saham ini perusahaan menerima aktiva dalam bentuk lain (bentuk kas), maka auditor harus memeriksa dengan seksama dasar penilaian yang digunakan seperti nilai pasar yang digunakan untuk saham yang diberikan atau untuk aktiva yang diterima. Untuk saham yang diterbitkan, harga pasar saham bisa digunakan sebagai dasar penilaian; sedangkan untuk nilai aktiva yang diterima bisa dinilai berdasarkan harga wajar aktiva tersebut.
2)      Pencocokan Ayat-Ayat Jurnal ke Rekening Laba Ditahan dengan Dokumen Pendukung
Setiap ayat jurnal ke rekening laba ditahan kecuali posting laba bersih (rugi bersih) harus dicocokkan ke dokumen pendukungnya. Jurnal untuk mencatat pengumuman dividen dan penyisihan laba ditahan harus ditelusur ke buku notulen rapat. Pencocokan ke dokumen dimaksudkan agar auditor dapat menetapkan apakah: (1) Pemisahan yang tepat telah dilakukan antara modal saham disetor dengan laba ditahan, dan (2) ketentuan-ketentuan hukum serta perjanjian telah dipenuhi. Selain untuk asersi penilaian atau pengalokasian, pengujian ini juga bersangkutan dengan aseris-asersi keberadaan atau keterjadian dan hak dan kewajiaban.

·         Pengujian Rincian Saldo
Pengujian substantif dalam kategori ini akan dijelaskan dalam lima bagian, yaitu: (1) review anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, (2) review otorisasi dan ketentuan-ketentuan penerbitan saham, (3) konfirmasi tentang saham yang beredar dengan registrar dan agen penjual, (4) inspeksi buku sertifikat saham, (5) inspeksi atas saham yang dibeli kembali.
·         Perbandingan Penyajian Laporan Dengan GAAP
APB Opinion No. 12 menetapkan bahwa pengungkapan atas perubahan dalam akun-akun terpisah yang terdiri dari ekuitas pemegang saham disyaratkan untuk membuat laporan keuangan yang cukup informatif. Pengungkapan tersebut dapat dibuka pada laporan dasar dan catatan yang menyertainya atau disajikan dalam laporan terpisah.

JASA BERNILAI TAMBAH DALAM SIKLUS INVESTASI DAN PEMBELANJAAN
Setelah menyelesaikan audit atas aktivitas investasi, auditor dapat mengevaluasi investasi entitas dibandingkan dengan perusahaan lain dalam industri yang sama. Auditor juga dapat memberikan dua jasa bernilai tambah yang penting. Pertama, auditor dapat mengevaluasi seberapa efektif entitas telah memanfaatkan aktivanya untuk menghasilkan penjualan, laba, dan arus kas, serta mencapai tujuan entitas itu. Kedua, auditor kemudian dapat memberikan jasa independen dengan mengevaluasi aktiva investasi yang direncanakan dapat menjadi pendukung yang penting untuk mencapai sasarannya.






DAFTAR PUSTAKA

Jusup, Haryono, Auditing (pengauditan) Buku II, Bagian Penerbit Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN, Yogyakarta, 2002